Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Siapa saja yang Allah telah berikan hidayah kepadanya maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang telah disesatkan, maka tidak seorangpun yang mampu menunjukinya. Kami bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dan kami bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan rasul Allah. Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam serta keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, yaitu Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semua.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya untuk berpegang teguh dengan agama dan tali Allah, serta bersatu di atasnya, sebagaimana firman-Nya :

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah dan janganlah bercerai berai”(QS. Ali imron : 103).

Maka hendaklah kita amati apa yang terkandung di dalam ayat ini, bahwasannya Allah -subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan tali agama-Nya dan melarang perpecahan. Semua ini mengisyaratkan bahwa berpegang teguh dengan agama Allah tidak mendatangkan perpecahan, dan perpecahan sendiri bukanlah bagian dari berpegang teguh dengan agama Allah. Sekiranya berpegang teguh dengan agama Allah menyebabkan perpecahan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk berpegang teguh dengan agama-Nya dan melarang perpecahan, dikarenakan pada hal seperti ini terdapat kontradiksi yang jelas antara yang satu dengan yang lain, maka sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan agama Allah bukan penyebab perpecahan jama’ah kaum muslimin. Bahkan bersatu di atas agama Allah merupakan bagian dari berpegang teguh dengan agama-Nya.

Kebanyakan orang salah kaprah memahami arti al-I’tisham (berpegang teguh), dan dari kesalahpahaman ini bisa jadi sebagian orang beranggapan bahwa dirinya telah berpegang teguh dengan agama Allah tatkala dia bersikukuh terhadap apa-apa yang dia yakini, sehingga dia berteman, memusuhi serta memecah belah umat dengan klaim dan dakwaan bahwa dirinya berpegang teguh terhadap agama Allah. Maka dari itu, sangatlah perlu untuk memahami apa arti berpegang teguh itu dan apa pula makna bersatu.

Apa makna al-I’tisham ?

Al-i’tisham dengan agama Allah yaitu: manakala seorang muslim melaksanakan apa yang telah Allah bebankan kepadanya, dan meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-. Semua ini termasuk bagian dari i’tishamnya dengan agama Allah pada dirinya, dan termasuk i’tishamnya dengan agama Allah ialah: dia menyeru orang lain kepada kebaikan yang dia berada di atasnya, sebagaimana firman Allah :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Asr: 1-3)

Maka iman seseorang yang ada di dalam jiwanya dan amal shalihnya termasuk bagian i’tisham dirinya dengan agama Allah. Dan jika nasihatnya kepada orang lain dengan kebenaran dan kesabaran, maka hal itu termasuk juga i’tisham dirinya terhadap agama Allah.

Dan tatkala seorang da’i menyeru manusia kepada kebaikan dan kepada apa yang ia berpijak di atasnya, maka sudah dimaklumi, bahwa tidak setiap orang yang menyeru kepada Allah, dakwahnya diterima sesuai dengan ketetapan alami Allah dan isyarat nash-nash syar’i, bahwa para rasulpun didustakan dan dianiaya. Syaikhul Islam mengatakan; “Tidak ada seorang Rasulpun kecuali pasti telah didustakan oleh sebagian kaumnya. Dan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- di dalam sebuah hadits, bersabda : “Dan datang seorang Rasul tanpa seorang pengikut”. Maka ini adalah ketetapan yang Allah tetapkan sebagai hukum alam, dan nash-nash syar’i mengisyaratkan bahwasannya tidak setiap orang yang menyeru kepada Allah akan diterima dakwahnya.

Dan beranjak dari sini, berpegang teguh dengan kitab Allah dan agama Allah merupakan kewajiban manakala orang yang didakwahi tidak menanggapi sedikitpun dakwah kita. Dan ini merupakan titik rawan yang berbahaya, karena sebagian orang tetap istiqomah pada pendiriannya, dan dia juga menyeru manusia kepada kebaikan, maka ketika dakwahnya tidak mendapatkan respon, disini kemungkinan terjadinya ketimpangan, terkadang dia menempuh cara atau metode yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya, bisa dalam bentuk bersikap keras dalam berdakwah, karena menginginkan hidayah bagi orang lain, dan bisa juga dalam bentuk bermalas-malasan dalam berdakwah. Allah telah memperingatkan dari dua perkara, salah satunya : Allah memperingatkan agar tidak bermalas-malasan dengan firman-Nya yang ditujukan kepada Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam- :

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul telah bersabar”. (QS. Al-Ahqof : 35)

Maksudnya : bersabarlah dalam berdakwah dan terhadap gangguan manusia yang disebabkan oleh dakwah itu sendiri. Dan Allah berfirman tatkala Nabi n merasa keberatan karena pamannya yang bernama Abu Thalib tidak mendapatkan hidayah, walaupun ayat ini ditujukan kepada Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, tetapi untuk semua umatnya juga.

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya.” (QS. Al-Qashash : 56)

Allah -azza wa jalla-  mengabarkan bahwa manusia tidak kuasa memberikan petunjuk, dan sungguh Nabi n pun tidak kuasa memberikan petunjuk kepada orang yang terdekat dengannya, padahal beliau didukung oleh wahyu dari Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Oleh karena itu, tatkala kita menyuarakan kebaikan kepada manusia dan memberikan nasihat bagi orang-orang yang menyelisihi agama Allah, maka kita tidak diperbolehkan keluar sedikitpun dari tuntunan syari’at dalam bermuamalah dengan mereka, akan tetapi hendaknya tetap berada di atas dakwah yang mengajak kepada kebaikan, baik mereka mendapatkan hidayah ataupun mereka tetap berada di atas kesesatan mereka. Dan yang penting telah tegak atas mereka hujjah dan kita memiliki udzur di sisi Allah atas dakwah kita.

Adapun orang yang beranggapan bahwasannya dakwah dan metodenya harus dirubah tatkala tidak ada tanggapan dari orang yang didakwahi, terkadang sampai menempuh metode yang salah, yang mana sebelumnya dia beranggapan bahwa dengan cara yang lama orang yang didakwahi akan mendapat hidayah, maka orang ini jelas-jelas di atas kesalahan. Dan yang seharusnya dia tempuh sejak permulaan dakwahnya kepada orang yang menyelisihi adalah cara-cara yang benar, bermanfaat dan membuahkan hasil. Sebagaimana yang telah kita jelaskan pada permasalahan ta’lif dan hajr (persatuan dan boikot). Dan apabila jelas bagi kita bahwasannya nasihat dan lemah lembut lebih bermanfaat bagi seseorang, maka hendaknya cara ini terus ditempuh dalam mendakwahinya dan begitu juga kalau kita melihat bahwa hajr dan menjauhi atau berpaling darinya lebih memberikan pengaruh, maka hendaknya cara ini terus ditempuh dalam mendakwahinya.

Inilah hakikat berpegang teguh dengan jalan yang benar, yaitu seorang da’i tetap lurus serta istiqomah di atas jalan Allah dalam dakwahnya.
Berdakwah di jalan Allah adalah amal shalih yang paling mulia. Karena berdakwah adalah amalan yang bisa bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala- :

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata : “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33)

Dan Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Pemberi petunjuk jalan kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu”. Maka barang siapa yang menunjukkan kepada manusia kebajikan, maka dia itu memperoleh ganjaran seperti ganjaran orang yang mengerjakannya. Setiap pelaku kebaikan lantaran dakwah sang da’i, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka. Inilah maksud berpegang teguh.

Adapun maksud persatuan, maka banyak orang yang salah memahaminya. Oleh sebab itu terjadi penyimpangan dari kelompok-kelompok dakwah. Dan apakah sebenarnya maksud dari persatuan itu ? pengertian persatuan yaitu tetap bersama jama’ah kaum muslimin dan tidak memisahkan diri dari mereka, serta memberikan hak-hak mereka.

Tetapi bukan berarti anda harus bergaul dengan setiap orang, karena kadang-kadang ada orang yang tidak pantas untuk dijadikan teman, dan sudah menjadi tabiat manusia untuk tidak cocok duduk dengan sebagian yang lain. Maka ketika ia mengucapkan salam kepadanya, bertemu dengan wajah ceria, menunaikan hak-haknya dan menjenguknya ketika ia sakit, mengunjunginya ketika ia butuh. Hal ini tidak mengharuskannya untuk berteman dengannya. Oleh karena itu, sebagian para penuntut ilmu mengira bahwa termasuk persatuan adalah duduk di setiap majlis dan bergaul dengan setiap orang, bukan itu maksud yang sebenarnya.

Akan tetapi yang dimaksud adalah bersikap wala’ terhadap kaum muslimin secara umum dan terkadang perlu memilih dari mereka yang pantas untuk dijadikan teman, yang bisa menolongnya berbuat kebaikan. Meskipun demikian, dia tidak memutuskan hubungan dengan orang lain secara umum.

Maka arti persatuan ialah memberikan hak-hak kaum muslimin, mengucapkan salam kepadanya apabila bertemu, menghadiri jenazah tatkala ia meninggal dunia, menjenguknya ketika ia sakit, senang atas kebaikan yang dia peroleh dan senantiasa menasihatinya dalam kebaikan apabila ia keliru, serta menolongnya ketika ia butuh. Inilah hak-hak persaudaraan dan makna persatuan.

Dan keliru orang yang memahami makna persatuan dengan bersatunya kaum muslimin walaupun di atas kebatilan. Oleh sebab itu, metode sebagian kelompok dakwah adalah mengumpulkan kaum muslimin. Mereka mengatakan : “Kita saling bertoleransi atas perkara yang kita perselisihkan dan kita bersatu pada apa yang telah kita sepakati. Bagaimana mungkin sebagian kita memberikan toleransi kepada yang lain dalam hal-hal yang menyelisihi syari’at ?! Bahkan yang benar, siapa saja yang melakukan penyimpangan tidak kita berikan udzur dan tidak kita diamkan atas kesalahannya. Adapun jika ia melakukan kesalahan, sedangkan dia tidak mengetahuinya, inilah yang dikatakan bahwa orang tersebut mempunyai udzur, akan tetapi kita jelaskan kepadanya yang benar dan menasihatinya. Apabila dia menerima penjelasan dan nasihat tersebut, -alhamdulillah-, dan apabila dia tidak menerima kita tidak mengatakan : “Bahwa dia mempunyai udzur atas kesalahannya.” Akan tetapi kita tidak bersikap keras kepadanya atas kesalahannya, setelah kita menasihati dan menjelaskannya. Adapun ketika kita tidak memberikan udzur kepadanya, bukan berarti kita berlaku keras kepadanya. Maka berbeda antara orang yang diberi udzur. Contohnya orang yang melakukan kesalahan, sedangkan dia tidak mengetahuinya, maka kita katakan: “Orang ini mempunyai udzur, karena dia adalah seorang yang jahil, dan antara orang yang melakukan maksiat sedangkan dia mengetahuinya, maka kita tidak mengatakan : “Bahwa dia mempunyai udzur, akan tetapi kita menasihati dan menjelaskan kepadanya”.

Kita bersatu di atas kebenaran, dan nasihat menasihati dengan kebenaran. Apabila salah seorang saudara kita berbuat salah, kita menasihatinya dan menjelaskan kepadanya, kita tidak memboikotnya dan memutuskan persahabatan dengannya karena kesalahannya ini, apabila pemboikotan tersebut tidak dianjurkan.

Oleh karena itu sebagian diantara mereka beranggapan, bahwa persatuan adalah kamu tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Adapun orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dia (dianggap) memecah belah persatuan kaum muslimin. Berdasarkan anggapan ini, sebagian diantara mereka mengatakan: “Sesungguhnya orang yang melakukan dakwah di jalan Allah -azza wa jalla- di atas metode salaf adalah, orang yang memecah belah persatuan kaum muslimin”. Yang benar, ini tidak memecah belah persatuan kaum muslimin, bahkan seruan kepada manhaj salaf yang benar, yang merupakan metode yang paling agung untuk menyatukan hati-hati manusia, karena hati-hati itu tidak mungkin bersatu kecuali di atas kebenaran dan di atas agama Allah.

Adapun dakwah kepada sunnah, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak akan memecah belah manusia, apabila dakwah tersebut dilandasi ilmu. Sesungguhnya yang memecah belah manusia adalah kejahilan dan sikap keras yang bukan pada tempatnya. Adapun orang yang berdakwah atas dasar ilmu, dengan lemah lembut, dan meniti jalan yang benar ketika berdakwah di jalan Allah -azza wa jalla-, sesungguhnya dia tidak memecah belah manusia.

Berangkat dari sinilah, perlu ditetapkan bahwa makna persatuan bukanlah berarti, apabila kita melihat seseorang yang bersalah, kita tidak boleh mengingkarinya, dan kita katakan: “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengingkari saudaranya”. Tetapi justru pengingkaran terhadap saudaranya sesama muslim yang keliru, merupakan wujud persatuan dan rasa cinta terhadap sesama muslim.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta melarang perpecahan. Allah berfirman :

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih.” (QS. Ali Imran : 104-105).

Maka renungkanlah kandungan ayat ini, bagaimana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih”. Ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar, tidak bertentangan dengan makna persatuan, kalau bertentangan, bagaimana mungkin Allah memerintahkan kita untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar sedangkan Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih“. Ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak memecah belah persatuan.

Tetapi, ini bagi yang faham tentang agama. Adapun bagi orang bodoh yang tidak mengetahuinya. Dan orang yang menyangka, bahwa perpecahan kaum muslimin itu disebabkan oleh dakwah kepada aqidah yang benar atau dakwah kepada tauhid, maka ini adalah disebabkan oleh kejahilannya. Karena sesungguhnya pendahulu umat ini, sungguh aqidah yang benar telah mengumpulkan mereka menjadi satu, hingga mereka tidak berpecah belah. Oleh karena itu, ahlussunnah wal jama’ah dengan bersatunya mereka di atas akidah yang benar, maka merekalah orang-orang yang ahli dalam persatuan, sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Dan Ahlussunnah adalah orang-orang yang bersatu serta saling berkasih sayang, dan ahli bid’ah adalah orang-orang yang bercerai berai dan saling berselisih.” Oleh karena itu, anda melihat ahli bid’ah, mereka berkelompok-kelompok yang berbeda-beda, walaupun pada dhohirnya mereka itu seakan-akan bersatu, padahal hakikatnya mereka itu berpecah belah.

Dan para ulama sungguh telah menyebutkan di dalam buku-buku dan makalah-makalah tentang kelompok-kelompok Islam yang menyimpang bahwa: “Sesungguhynya khowarij, keluar dari mereka sebuah golongan, yang mana golongan tersebut tidak kembali kepada golongan yang pertama, kecuali berpecah menjadi golongan-golongan. Sehingga setiap ada yang salah, maka mereka langsung berlepas diri darinya dan mengkafirkannya, dan begitulah seterusnya hingga timbul banyak ragam golongan. Adapun Ahlussunnah wal jama’ah, mereka adalah orang-orang yang bersatu, orang-orang yang mengakui dan menetapi kebenaran, dan jika ada saudaranya yang khilaf dan menyalahi kebenaran, maka saudara-saudaranya yang lain segera mengingatkan dan mengarahkannya kepada kebaikan, dan tetap bersabar dalam berdakwah dan pengarahan tersebut, dan tidak meninggalkannya.

Perlu diketahui, apakah yang dimaksud dengan bersatu itu? bukanlah yang dimaksud bersatu itu, dengan kita bersepakat di atas kebatilan, dan kita diam dari berbagai kesalahan, serta tidak mengingatkan atas kemungkaran yang ada, justeru hal tersebut adalah suatu pelanggaran atas perintah Allah -azza wa jalla-.

Sangat mungkin, penggabungan antara amar ma’ruf dan nahi mungkar serta persatuan. Bahkan ketika Allah -azza wa jalla- berfirman : “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan saling berselisih”, setelah perintahnya untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka di dalamnya ada sebuah peringatan keras bahwa tidak mungkin amar ma’ruf dan nahi mungkar itu, menjadi sebab suatu perpecahan. Seperti apa yang telah disangka oleh sebagian orang-orang sekarang : “Bahwa penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar meninggalkan semua orang dan memboikot setiap orang yang menyelisihinya. Hal ini tidak benar !!. bahkan sangat mungkin pengumpulan antara amar ma’ruf, nahi mungkar, mewujudkan persatuan, dan menetapi jama’ah kaum muslimin.

Oleh karena ini, saya menasihati saudara-saudaraku semua dari kalangan para da’i penuntut ilmu di negeri ini – dan pada mereka ada kebaikan yang banyak dan mereka mengemban dakwah yang mubarokah- agar dapat mewujudkan landasan-landasan tersebut, berkasih sayang antara yang satu dengan yang lain, dan saling mencintai antara satu dengan yang lain karena Allah ta’ala, karena sesungguhnya barang siapa yang berada di atas aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, maka ia memiliki kebaikan yang banyak. Sehingga ia dicintai dan ditemani karena kebaikan yang ada padanya. Dan apabila ia mempunyai kesalahan-kesalahan, maka hendaknya ia diingatkan atas kesalahan-kesalahannya. Apabila ia menerimanya, maka alhamdulillah, dan apabila ia tidak menerimanya, maka kebaikan yang ada padanya dari as-sunnah dan dakwah ilallah di atas jalannya para salaf mendorong kita, agar tidak memboikotnya, tetapi hendaknya kita bersabar dan menahan diri.

Jika kita telah menegurnya dari kesalahan, maka persatuan kita dengannya bukanlah persatuan yang dibangun di atas kebatilan. Hanya saja teguran ini merupakan kewaspadaan dari sikap diam terhadap kesalahan, dan perlu diketahui bahwa teguran ini juga sepantasnya dilakukan dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut, hingga dia dapat menerimanya.

Jika kita telah menempuh jalan ini, dan terdapat suatu kesalahan dari sebagian saudara kita, maka jalan apakah yang harus ditempuh? Haruskah kita memboikotnya jika mereka memboikot kita? Dan jikalau mereka tidak bersabar dan tidak merealisasikan metode yang kita tempuh, apakah harus kita hadapi mereka dengan cara yang serupa seperti apa yang mereka lakukan? Tidak!! Janganlah kita melakukan hal yang serupa dengannya, jika mereka memboikot dan memutuskan hubungan dengan kita. Ini semua kita lakukan dengan prinsip bahwa manusia tidak boleh menghinakan dirinya. Tetapi jika mereka datang kepada kita, maka kita menerima mereka dan jika saja mereka berpaling maka janganlah kita mengikutinya. Maka merupakan suatu kebaikan jikalau kita mengunjungi dan selalu menghubunginya, yang mana kita berharap dengan ini semua agar Allah memberinya petunjuk. Andaikan kita mendapatkan manusia lalai dari ini semua, maka janganlah kita lalai seperti mereka. Bahkan harus kita bersabar, bertahan dan tetap di atas persaudaraan dan selalu taat kepada Allah dengan tetap berhubungan dengan saudara kita dan berkumpul bersama mereka. Dan jika mereka yang memutuskan hubungan, maka merekalah yang akan bertanggung jawab dihadapan Allah nantinya.

Akan tetapi wajib bagi kita mencurahkan segala kemampuan yang kita miliki demi untuk mempersatukan kalimat dan untuk tidak berpecah belah. Dan ulama sebelum kita, mereka pernah berselisih dalam sebagian masalah, akan tetapi tidaklah hal itu menjadikan mereka berpecah belah dan tidaklah terdapat dalam hati – hati mereka rasa dengki, kebencian, dan iri terhadap saudaranya. Bahkan mereka tetap saling mencintai, menyayangi dan menolong sebagian yang lainnya.

Inilah yang selayaknya bagi kita untuk berada di atasnya. Maka jadilah kecintaan, persaudaraan dan loyalitas kita sesuai dengan Sunnah. Dan kesalahan yang terjadi dari saudara kita, maka kita membenci kesalahan ini dan menegur mereka atas kesalahannya dengan tidak mengurangi kebaikan yang ada padanya. Dan juga selalu menolongnya dalam berdakwah kepada Sunnah dan tidaklah kesalahannya ini mencegah kita dari menolongnya dalam suatu kebaikan.

Maka tidaklah benar dan tidak boleh bagi kita mengesampingkan saudara kita yang telah melakukan kesalahan dan janganlah memutuskan persaudaraan dengannya ataupun menghentikan pengajaran – pengajarannya, demikian juga jangan melarang manusia dari majelisnya untuk mengambil manfaat darinya. Hal ini merupakan usaha menghalangi manusia dari dakwah. Andaikata kesalahan yang ada padanya kita khawatirkan akan tertimpa pada manusia, maka mungkin bagi kita menjelaskan pada khalayak akan kesalahannya dengan cara kita mengatakan : “Dia adalah saudara kita yang berada di atas kebaikan dan keutamaan, dia mempunyai kebaikan yang sangat banyak, hanya saja dia salah dalam masalah demikian dan kita memohon agar Allah memberinya petunjuk.”

Adapun orang yang berbicara dari sebagian kalangan yang memiliki dugaan–dugaan, kesalahan–kesalahan dan keberanian dalam berbicara masalah agama tanpa dilandasi oleh ilmu, walaupun dia mengaku salafi, maka tidaklah kita mengarahkan manusia kepada orang–orang yang dapat membahayakan agamanya.

Maka wajb bagi para penuntut ilmu agar mereka bersatu di atas Al-Qur’an dan As sunnah, saling menasihati dan mau menerima nasihat yang diberikan oleh saudaranya. Karena orang yang menasihati bukan berarti ia membenci saudaranya, akan tetapi dia mencintai serta menginginkan kebaikan untuknya. Oleh karena itu, orang yang berakal (menggunakan akal sehatnya untuk berfikir) dia akan mengetahui ketika dia dinasihati oleh saudaranya berarti saudaranya itu mencintainya dan bukan membencinya.

Dan nasihat tersebut tidak disampaikan di depan orang banyak atau dengan maksud untuk menjauhkan orang yang dinasihati. Oleh sebab itu, jika nampak suatu kekeliruan yan dilakukan oleh saudara kita, maka jangan kita menyebarkannya di depan orang banyak. Akan tetapi, hendaknya kita menghubunginya, menjelaskan kepadanya tentang kesalahannya serta kita meminta kepadanya agar mau melihat kembali (meneliti kembali) dan agar dia mau kembali kepada yang haq, dan hendaknya kita berusaha untuk menasihatinya dengan cara sirr (sembunyi – sembunyi).

Sebelum kita menasihatinya, kita harus meneliti terlebih dahulu tentang segala sesuatu yang disampaikan kepada kita, seperti : “Fulan berkata……”. Yang mana semuanya itu bisa jadi dibangun di atas dugaan semata. Dan bisa jadi seorang bertahun–tahun mengambil suatu sikap (keras) terhadap saudaranya, kemudian jelas baginya bahwa sikap tersebut tidak benar. Maka seyogyanya bagi kita untuk tatsabbut (meneliti) terlebih dahulu, apabila telah jelas bagi kita bahwa hal ini keliru, maka hendaknya kita menghubunginya, meluruskan kekeliruannya, mengunjunginya dan bersikap tawadhu’ padanya.

Dan hendaknya nasihat tersebut disampaikan dengan cara yang lemah lembut, janganlah dikatakan kepada orang yang bersalah tersebut dengan ucapan seperti berikut : “Jika kamu tidak mau kembali (kepada kebenaran), maka kami akan memperingatkan orang–orang darimu!”. Pasti dia tidak akan mau menerima ucapan tersebut, akan tetapi hendaknya katakanlah kepadanya dengan ucapan yang lembut seperti : “Anda, alhamdulillah, berada di atas kebaikan dan keutamaan, semoga Allah  memberikan manusia manfaat dengan anda dari kebaikan dan keutamaan yang ada serta ilmu yang anda miliki dan kebaikan yang banyak sangat diharapkan dari anda. Saya, demi Allah mencintai anda dan selalu mendoakan anda dengan kebaikan, akan tetapi ada satu masalah yang ingin saya sampaikan, dan semoga anda bisa membahasnya kembali.” Janganlah engkau tampakkan padanya, seolah–olah engkau mengguruinya, seperti anda mengatakan : “Ketahuilah begini dan begitu!” Akan tetapi, jadilah engkau sebagai seorang yang hendak menasihatinya dengan tawadhu’ dalam berbicara serta menjelaskan kepadanya atau dengan cara membawakannya kitab–kitab, referensi, atau ucapan–ucapan para ulama yang bisa membantunya dalam memahami masalah tersebut. Hendaknya engkau tidak bosan dalam menasihatinya, dua atau tiga kali. Jika dia tidak mau menerimanya, dan engkau mengetahui ada salah seorang alim yang memiliki hubungan dengannya, maka jelaskanlah dan mintalah kepadanya agar dia mau menasihati orang tersebut, dengan harapan bahwa nasihat orang alim tadi dapat diterima olehnya. Intinya, hendaknya seseorang mencurahkan segala kemampuannya dalam menasihati dan menunjuki saudaranya di atas jalan kebenaran.

Kemudian hendaknya seseorang mencintai sesuatu yang benar dari saudaranya dan benci terhadap kesalahan yang dibuat saudaranya. Maka janganlah dia mencintai dan membiarkan kesalahan yang ada pada saudaranya sehingga tersebar luas. Akan tetapi hendaknya dia senang apabila saudaranya itu berada di atas petunjuk dan berada di atas sunnah serta hendaknya dia memohon kepada Allah dalam shalatnya agar Allah -subhanahu wa ta’ala- memberikan hidayah kepadanya.

Kalau saja orang–orang mau menempuh jalan ini, yaitu mengajak manusia dengan hatinya sebelum lisannya, serta mencintai hidayah bagi manusia dengan hatinya, niscaya akan mendapatkan kebaikan yang banyak, sebagaimana Allah berfirman :

“Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik.” (QS. An-Nisa’: 35)

Maka seorang yang menginginkan kebaikan, pasti Allah akan memberikan taufik dan petunjuk kepadanya.

Seyogyanya bagi kita untuk mensucikan hati-hati kita dari rasa benci, hasad dan cemburu, dan (juga) mencintai saudara-saudara kita yang semanhaj dan seaqidah. Adapun ahlul bid’ah yang memecah belah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, mereka juga harus didakwahi kepada kebaikan, akan tetapi muamalah kita dengan mereka berbeda dengan muamalah kita terhadap saudara-saudara kita (ahlus sunnah). Kita mendakwahi mereka dan bersabar dalam mendakwahi mereka dan menjelaskan kepada mereka, semoga Allah memberi mereka hidayah. Adapun saudara-saudara kita (Ahlus Sunnah), mereka memiliki hak-hak yang agung atas kita.

Saudara-saudara kita yang semanhaj dan seaqidah dengan kita, mereka adalah ahlus sunnah, apabila mereka salah pada suatu masalah, tidaklah hal ini mencegahmu untuk menganjurkan manusia agar mengambil faidah dari mereka berupa kebaikan yang ada disisi mereka. Apabila anda khawatir orang-orang yang duduk di majlisnya mendapat madharat, maka diperingatkan manusia akan kesalahannya dalam masalah tersebut. Seandainya kita katakan : “Kami tidak mentazkiyah / merekomendasikan dan juga tidak menganjurkan seseorang untuk hadir pada majlis ilmu kecuali kepada orang yang kami ridho dengannya dan kami tidak mengetahui satu kesalahan darinya”, maka kita tidak akan pernah mendapatkan seorang ulama pun dengan ciri-ciri seperti ini. Dan tidak ada seorang alim pun dan juga penuntut ilmu, apabila kamu memperhatikan dari perkataanya kecuali kamu kadang-kadang mendapatkan sebuah kesalahan padanya. Akan tetapi kesalahan tersebut muncul dari ijtihadnya sendiri, yang mana hal tersebut tidak mencegah kita untuk mengambil manfaat darinya dan membantu dakwahnya serta menganjurkan manusia untuk mengambil faidah darinya.

Dan seandainya penuntut ilmu memandang masalah ini dengan pemahaman (yang benar) niscaya mereka mendapatkan pada hal ini suatu kebaikan yang amat besar, sebagaimana dalam menyelisihi hal tersebut terdapat fitnah yang amat dahsyat. Karena, apabila kalian berpecah belah niscaya umat juga akan ikut berpecah belah.

Maka perpecahan kalian merupakan perpecahan umat dan bukan perpecahan perorangan, karena dibelakang setiap da’i terdapat penuntut ilmu yang mengikutinya, maka perpecahan (diantara) para penuntut ilmu dan para da’i adalah perpecahan umat, dan persatuan mereka merupakan persatuan umat.

Oleh karena itu, seyogyanya bagi para penuntut ilmu untuk ikhlas dalam rangka memperbaiki hubungan dikalangan saudara (kaum muslimin). Sungguh hal ini -demi Allah- terdapat di dalamnya ganjaran yang amat besar. Memperbaiki hubungan diantara dua orang awam dari kaum muslimin terdapat padanya kebaikan yang sangat banyak, sebagaimana Allah berfirman :

“Dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa’ : 128 )

Dan perdamaian itu baik dilakukan diantara dua orang muslim yang berselisih, maka bagaimana apabila perdamaian itu dilakukan diantara para penuntut ilmu dan para da’i serta saudara-saudara kita (Ahlus Sunnah)?

Dan dari sini, apabila seseorang menemukan suatu permusuhan diantara dua orang saudaranya, maka seyogyanya dia mengusahakan perdamaian diantara keduanya dan mendekatkan jalan pemikiran mereka, dan dia membawakan perkataan dari kedua belah pihak yang bisa mendekatkan hati mereka, dan berbohong demi mendamaikan kaum muslimin itu dibolehkan.

Adapun apa yang diperbuat sebagian manusia yang menyulut api permusuhan di dada para penuntut ilmu, kemudian mereka mengatakan : “Saya mendengar si fulan membicarakan tentang (kesalahan) anda, dan si fulan berkata (begini) tentang anda”, maka mereka itu berada di atas kejelekan yang besar dan perbuatan mereka ini termasuk “namimah” (adu domba) yang merusak hati (para penuntut ilmu). Maka barang siapa yang menginginkan kebaikan, hendaklah ia menyampaikan (perkataan) yang baik, seandainya ia mendengar suatu perkataan yang bisa menimbulkan perpecahan, janganlah ia menyampaikan perkataan tersebut, karena sesungguhnya tidak ada kebaikan (yang bisa dipetik) dari menyampaikannya, sehingga ia hanya menyampaikan perkataan-perkataan yang baik yang bisa menyatukan hati-hati mereka.

Dan perkara ini –demi Allah- termasuk sebab terbesar memperoleh taufik, dengan seseorang itu dianugerahi rizki berupa ilmu dari Allah dan Dia menjadikan manfaat dengannya dan dakwahnya serta menjadikannya sebagai sebab persatuan kaum muslimin dan perdamaian diantara mereka. Kemudian Allah memberikan manfaat (kepada kaum muslimin) dengan ilmu dan dakwahnya, sehingga terciptalah baginya kebaikan yang banyak, jika Allah mengetahui darinya ketulusan niat dalam rangka menyatukan kaum muslimin, dan menyatukan barisan Ahlus Sunnah dan kecintaanya untuk tersebarnya kebaikan ditengah-tengah manusia dan keinginannya untuk manusia mendapatkan hidayah. Bahkan ahlul bid’ah pun, kita mengharapkan mereka mendapatkan hidayah, karena hal ini termasuk konsekwensi kecintaan kita kepada Allah. Barangsiapa mencintai Allah, ia pasti mencintai untuk Allah  dita’ati dan tidak dimaksiati, menyukai untuk tidak ada orang kafir di atas bumi ini dan ia mengerahkan segenap kemampuannya dalam upaya memberi petunjuk kepada manusia-sampai orang-orang kafir sekalipun- ia menyeru mereka kepada Islam.

Apabila sikap berlemah lembut kepada mereka bisa mendekatkan mereka (kepada Islam), maka ia (da’i tersebut) bersikap lemah lembut dan berusaha menarik hati mereka.

Apabila para penuntut ilmu itu berada di atas pemahaman dan tujuan yang (mulia) ini: dari memperdamaikan kaum muslimin, mempersatukan kalimat mereka dan mengajak mereka kepada kebaikan dan merealisasikan perintah-perintah Allah, maka dengan ini terciptalah kebaikan yang banyak. Dan ini semua, tidak berarti seorang muslim itu harus mengalah (menanggalkan) sesuatu dari agamanya, karena problemanya sebagian orang menyangka bahwa ijtima’ (kebersamaan) itu adalah menanggalkan agama. Tidak, meskipun seseorang itu manusia yang paling dekat denganmu, meskipun ia adalah orang yang paling alim, jika engkau mengetahui darinya suatu kesalahan, tidak boleh bagimu “bermudahanah” (toleransi) dan kamu mengatakan : “Kita ini bersaudara, tidak sepantasnya bagi kita saling mengingatkan kesalahan sebagian yang lain”. Ukhuwah (tali persaudaraan) itu tidak mengahalangi kita untuk saling menasihati dengan cara yang santun dan lemah lembut.

Seyogyanya engkau mengetahui batasan “lafadz-lafadz syar’iyah” ini : (makna berpegang teguh dengan kitabullah dan makna ijtima’). Dan bukanlah makna ijtima’ itu seperti apa yang disangka oleh ahlul bid’ah : “Kita bersatu di atas kebatilan, dan tidak saling mengingkari antara satu sama lain”. Dan sebagaimana makna berpegang teguh itu, bukanlah kita saling berpecah belah, setiap individu mempertahankan pendapatnya dan berkata : “Saya berpegang teguh dengan agama Allah dan saya tidak peduli siapapun yang menyelisihiku”, akan tetapi wajib bagi kita saling menasihati dan menerima (nasihat) satu sama lain, sehingga kita mengetahui kebenaran dan mengikutinya serta mengetahui kesalahan dan menjauhinya.

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 27, hal. 4-14)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: