Kisah Umar bin Abdul Aziz

Semerbak Harum Dari Kisah Umar bin Abdul Aziz [1]

A. Nama serta Nasab keturunan

Nama beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan[2] bin al-Hakam bin Abil ‘Ash bin Umaiyyah bin Abdusyamsin bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab. Beliau adalah seorang al-Imam (pemimpin), al-Hafidh (Hafal ilmu), al-Allaamah (Seorang yang sangat alim), al-Mujtahid (ahli dalam berijtihad), az-Zahid (Ahli zuhud), al-Abid (ahli ibadah), as-Sayyid (pemuka), Amirul mukminin haqqaan (pemimpin orang-orang yang beriman). Nama julukan (kunyah) beliau adalah Abu Hafsin, al-Qurasy (Bani Quraisy), al-Umawy (keturunan Bani ‘Umayyah), al-Madani (penduduk kota Madinah), lalu al-Misri (penduduk Mesir). Beliau seorang khalifah yang zuhud, yang dijuluki dengan Asyajju Bani Umayyah (keturunan Bani Umayyah yang paling terluka) [3]

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang tabi’in[4] yang mulia.
Ibnu Sa’ad berkata tentang tingkatan ketiga dari kalangan tabi’in penduduk kota Madinah : “Nama ibu Umar bin Abdul Aziz adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khattab. Mereka mengatakan : Beliau dilahirkan pada tahun 63 H”.

B. Sosok Beliau dan Pujian ‘Ulama

Ibnu Sa’ad berkata :”Beliau adalah seorang yang terpercaya, amanah, berilmu dan mempunyai sikap wara’ (hati-hati dari terjerumus dalam dosa), beliau banyak meriwayatkan hadits, beliau adalah seorang pemimpin yang adil, semoga rahmat Allah tercurah padanya, dan semoga Dia meridhainya.”
Beliau meriwayatkan hadits dari Sahabat Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, diantaranya Anas bin Malik, as-Saib bin Yazid, Yusuf bin Abdullah bin Sallam -radhiallohu anhum-. Demikian juga beliau meriwayatkan hadits dari sejumlah tabi’in. Demikian juga sejumlah tabi’in dan selain mereka ada yang meriwayatkan hadits darinya.

Beliau meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, dan Sahl bin Sa’ad, dan beliau meminta Sahl bin Sa’ad agar menghibahkan sebuah cangkir yang mana Nabi n pernah minum dari tempat itu.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal[5] berkata : “Saya tidak pernah mengetahui seorangpun dari generasi tabi’in yang ucapannya dijadikan hujjah kecuali ucapan Umar bin Abdul Aziz.”

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, sesudah (kematian) khalifah Sulaiman bin Abdul Malik[6] yang merupakan anak pamannya, melalui wasiat sebelum wafatnya.

Beliau termasuk di antara imam-imam ahli ijtihad, dan termasuk Khulafaur ar-Rasyidin semoga rahmat Allah tercurahkan atas beliau.
Beliau mempunyai banyak saudara laki-laki, namun saudara laki yang se-ayah dan se-ibu adalah Abu Bakar, Ashim dan Muhammad.
Sa’id bin Ufair menyebutkan sosok Umar bin Abdul Aziz : Beliau berkulit coklat, berwajah lembut dan tampan, bertubuh langsing, cekung kedua matanya, di kening beliau ada bekas luka pukulan kaki kuda, dan rambut beliau terdapat ubannya.

Dhimam bin Ismail meriwayatkan dari Abu Qabil : bahwasanya Umar bin Abdul Aziz pernah menangis di waktu masih belia, lalu Ibu beliau menemuinya dan bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?”. “Saya ingat kematian”, jawab beliau. Mendengar itu ibunya-pun ikut larut dalam tangisan. Abu Qobil berkata : Pada waktu itu beliau telah hafal al-Qur’an.

C. MENUNTUT ILMU

Sa’id bin Ufair berkata : Ya’qub telah menceritakan kepada kami dari ayahnya bahwa Abdul Aziz bin Marwan mengirim anaknya ke kota Madinah untuk menuntut ilmu, maka iapun menulis surat kepada Shalih bin Kaisan untuk menjaganya. Dan Shalih senantiasa menemani Umar bin Abdul Aziz pergi ke masjid untuk shalat lima waktu. Suatu hari Umar bin Abdul Aziz terlambat menunaikan shalat, lalu Shalih bin Kaisan bertanya : “Apa yang menyebabkanmu terlambat?”. “Pelayanku menyisiri rambutku”, jawab Umar bin Abdul Aziz. Lalu Shalih berkata padanya : “Engkau lebih mendahulukan hal ini dari shalat?” lalu Shalih mengirim surat memberitakan hal ini kepada ayah Umar bin Abdul Aziz. Setelah itu Ayah beliau mengirim seorang utusan untuk pergi ke Madinah menemui anaknya, dan utusan ini tidak mengucapkan sepatah katapun tatkala bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz hingga ia selesai mencukur rambutnya.

Az-Zubair bin Bukar menukil dari al-Utabi ia berkata : bahwasanya awal kali hal yang diketahui dari lurusnya pikiran Umar bin Abdul Aziz adalah semangatnya dalam menuntut ilmu, dan hasratnya yang besar dalam adab. Sesungguhnya ayahnya penguasa Mesir, dan saat itu Umar bin Abdul Aziz masih belia. Lalu ayahnya berkeinginan mengirimnya ke luar negeri yaitu negeri Syam, maka berkatalah Umar: Wahai Ayah, apakah tidak ada kota lainnya? Barangkali akan memberi manfaat padaku dan bagimu?” Ayahnya bertanya : “Kota apa yang engkau maksud?” Umar menjawab : “Kirimlah aku ke kota Madinah, di situ aku akan belajar kepada para ulama kota Madinah, aku akan beradab/berperangai seperti mereka, lalu ayahnya mengirimnya ke kota Madinah, bersama seorang pelayannya, di Madinah Umar belajar kepada para syaikh dan demikianlah keadaannya hingga ia mashur, maka setelah ayahnya wafat, paman beliau yaitu khalifah Abdul Malik bin Marwan mengasuh dan mencampurbaurkan dalam memelihara beliau dengan anak-anaknya, dan Khalifah Abdul Malik lebih mengutamakan beliau daripada anak-anaknya sendiri, setelah itu Khalifah Abdul Malik mengawinkan Umar bin Abdul Aziz dengan puterinya yang bernama Fatimah, yang dalam sebuah syair di sebutkan :

Fatimah adalah puteri seorang khalifah, dan kakeknya juga seorang khalifah
Dia adalah saudara perempuan para khalifah, dan suaminya adalah seorang khalifah

Az-Zubair berkata : “Kami tidak pernah melihat seorang perempuan yang seperti dikatakan syair ini sampai hari ini kecuali Fatimah istri Umar bin Abdul Aziz.”

Abu Mashur berkata : Umar bin Abdul Aziz menjadi penguasa di kota Madinah pada masa pemerintahan al-Walid, mulai tahun 83 H hingga tahun 93 H.

D. Diangkat menjadi khalifah

Abdurrahman bin Hassan al-Kinani ia berkata : tatkala Sulaiman sakit ia berkata (kepada penasehatnya) : “Wahai Roja![7] Apakah saya mengangkat anakku menjadi khalifah sebagai penggantiku?” Roja menjawab : “Anakmu tidak berada di sini”. Lalu ia bertanya lagi : “Anakku yang lainnya?” Roja menjawab : “Anakmu masih belia”. Ia bertanya lagi : “Kalau begitu siapa yang pantas menurut pendapatmu?” Roja menjawab : “Umar bin Abdul Aziz”. Ia menjawab : “Saya khawatir anak-anak keturunan Bani Marwan tidak ridha”. Roja menjawab : “Kalau begitu jadikan mereka khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz, jadikan Yazid bin Abdul Malik khalifah setelah Umar, engkau tuliskan wasiat ini dalam suatu kitab lalu tutuplah tanpa memberitahu siapapun, kemudian engkau panggil keturunan Bani Marwan untuk baiat terhadap isi wasiat yang tertulis”. Lalu Sulaiman-pun menulis penggantinya dan menutupnya. Setelah itu Roja keluar dan berkata : “Sesungguhnya Amirul mukminin memerintahkan kalian untuk berbaiat terhadap khalifah baru yang ditunjuk dan tertulis dalam kitab”. Lalu mereka bertanya: “Siapa yang ditunjuk?” Roja menjawab : “Tidak diketahui, kalian tidak diberitahu siapa yang menggantikannya, setelah ia meninggal (kalian akan tahu)”. Maka merekapun diam. Lalu Sulaiman bin Abdul Malik berkata : “Berangkatlah menuju pasukan dan panggillah untuk shalat jama’ah lalu perintahkan mereka berbaiat, barangsiapa enggan penggallah kepalanya!” lalu Roja melakukannya, maka para pasukanpun berbaiat.[8] Roja berkata : “Tatkala para pasukan telah keluar, Hisyam bin Abdul Malik datang, lalu bertanya : “Saya telah mengetahui kedudukan anda di sisi Khalifah kita, dan saya takut amirul mukminin tidak memberikan jabatan khalifah kepadaku, maka beritahukanlah padaku, mumpung belum terjadi. Lalu aku katakan : “Subhanallahi ! Amirul mukiminin meminta kepadaku untuk merahasiakannya setelah itu saya membocorkannya, hal ini tidak akan terjadi sama sekali!” lalu ia memutar badanku dan menginginkanku menceritakannya namun aku menolaknya. Iapun pergi, dan disaat aku berjalan terdengar suara kegaduhan dibelakangku, ternyata Umar bin Abdul Aziz. Ia pun berkata : “Wahai Roja!” hatiku merasakan kegelisahan, saya takut khalifah Sulaiman menjadikan aku sebagai penggantinya sedangkan aku tidak kuasa memikul urusan ini, oleh karena itu beritahukanlah padaku sebelum terjadi, agar aku dapat menghindarinya. Lalu aku katakan : “Subhanallahi ! Amirul mukimin meminta kepadaku untuk merahasiakannya setelah itu saya membocorkannya!” (Demikianlah ketakutan Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi penguasa, pent).

Roja bin Haiwa bercerita : Ketika Sulaiman mengalami sakit yang berat dan akan meninggal, aku dudukkan dan sandarkan serta aku baguskan posisinya, lalu aku keluar menemui orang-orang, kemudian mereka bertanya : Bagaimana keadaan Amirul Mukimin pada pagi hari ini? Aku menjawab : ia lebih tenang, masuklah kalian dan ucapkan salam padanya, dan baiatlah dihadapannya atas ikrar yang ditetapkan, lalu mereka-pun masuk, dan aku berdiri disampingnya, kemudian aku katakan : Sesungguhnya amirul mukminin menyuruh kalian untuk berdiri, lalu aku mengambil sebuah buku dari saku amirul mukminin, dan kukatakan: Sesungguhnya Amirul mukminin menyuruh kalian untuk baiat melaksanakan apa yang telah diputuskan/tertulis dalam buku ini, maka merekapun berbaiat dan mengulurkan tangan-tangan mereka. Tatkala wasiat telah dibaca, aku berkata : “Semoga Allah membalas pahala kalian dalam menepati apa yang ditetapkan Amirul mukminin. Orang-orang bertanya : “Siapakah pengganti Amirul Mukminin ?” akupun membuka buku wasiat, dan ternyata nama Amirul mukminin yang ditetapkan adalah Umar bin Abdul Aziz, maka setelah mendengar hal ini berubahlah rona wajah anak-anak keturunan Abdul Malik, namun setelah mendengar bahwa jabatan khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz adalah Yazid bin Abdul Malik wajah-wajah mereka kembali seperti sedia kala. Lalu Umar bin Abdul Aziz dicari, dan ternyata ia berada di dalam masjid, orang-orangpun mendatanginya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya ia menjadi khalifah dan Umarpun tercengang menyaksikan hal ini, dan ia tidak mampu untuk bangkit dari duduk, lalu mereka mengangkat dengan memegang dua lengannya dan mendudukkannya di atas mimbar, kemudian Umar bin Abdul Aziz duduk lama di atas mimbar itu dan tidak berbicara.

Lalu Roja bin Haiwa berkata : “Tidakkah kalian berdiri dan membaiat Amirul mukminin ?!. Mendengar hal itu merekapun bangkit menuju kepada Umar. Lalu Umar menjulurkan tangannya kepada mereka, tatkala Hisyam bin Abdul Malik menjulurkan tangannya membaiat Umar, ia berkata : “Inna lillahi wainna ilaihirajiun”, Umar pun berkata : Ya benar, Inna lillah (sesungguhnya kita adalah milik Allah), ketika Allah menjadikan saya dan engkau menjadi penguasa umat ini, lalu Umar bangkit untuk berceramah, ia mulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata : “Wahai manusia! bukanlah keinginan saya menjadi khalifah, namun saya ditetapkan (oleh khalifah sebelumnya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik), dan aku bukanlah seorang yang mengada-adakan suatu urusan agama (berbuat bid’ah), namun aku adalah seorang yang mengikuti ajaran agama, sesungguhnya jika penduduk negeri daerah kalian taat sebagaimana kalian taat maka aku adalah pemimpin mereka, dan jika mereka tidak taat maka aku bukanlah pemimpin kalian.” Lalu Umar bin Abdul Aziz turun dari mimbar, kemudian datanglah pengawal yang mengemudikan kereta khalifah, maka Umar berkata : “Tidak, aku tidak akan menaiki kereta khalifah, ambilkan hewan tungganganku, kemudian ia memerintahkan seluruh pegawai kekhalifahan untuk melakukan hal ini.”

Roja bin Haiwa berkata : Dahulu aku menyangka bahwa ia lemah dalam menjalankan kekhalifahan, namun tatkala aku melihat perbuatannya sesuai dengan al-Qur’an saya mengetahui bahwa ia akan kuat menjalankannya.

Khalid bin Mirdas berkata : al-Hakam bin Umar bercerita kepada kami : Saya menyaksikan Umar bin Abdul Aziz ketika di datangi para pegawai kereta khalifah, mereka meminta kepadanya keperluan perawatan kendaraan tersebut beserta gaji pegawainya. Lalu ia berkata : “Berangkatlah kalian membawa kendaraan-kendaraan itu ke negeri-negeri Syam agar mereka menjualnya, dan jadikan hasil penjualan itu masuk dalam baitul Mal (kas Negara), cukuplah bagiku kendaraanku ini.”
————————————————-

1. Kisah ini disusun oleh Abu Hasan Arif dari kitab Siyar a’lamun Nubala jilid 5 hal 114-148 cet. Muassasah ar-Risalah Beirut Libanon 1417 H/1996 M, dan al-Bidayah wan Nihayah jilid 9 hal 227-256 cet Daarul Ma’rifah Beirut Libanon 1418 H/1996 M

2. Beliau dilahirkan di kota Madinah, kemudian pindah ke negeri Syam bersama ayahnya Marwan bin al-Hakam bin Abil Ash. Ayah Umar bin Abdul Aziz ini adalah putera mahkota kedua setelah saudaranya yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Ayahnya menjadikannya penguasa negeri Mesir pada th 65 H. (al-Bidayah hal 71 jilid 9)

3. Dhamrah bin Rabi’ah berkata : Umar bin Abdil Aziz pernah masuk ke kandang kuda ayahnya, saat itu beliau masih muda, lalu seekor kuda menyepakkan kakinya ke arah beliau dan melukainya, hingga darah mengalir, maka ayahnya mengusap darah itu sambil berkata : “Sesungguhnya engkau adalah seorang dari keturunan Bani Umayyah yang paling terluka, kalau demikian halnya sesungguhnya engkau pasti bahagia.” (Siyar a’lamun Nubala jilid 5 hal 116)

4. Definisi Tabi’in adalah seorang yang pernah bertemu sahabat Nabi dan menemaninya. Ada juga pendapat yang mengatakan Tabi’in adalah seorang yang pernah bertemu dengan Sahabat Nabi sekalipun tidak berteman dengannya. Lihat Tadriburrawi hal 700 jilid 2 karya al-Hafidh Jalaluddin as-Suyuthi (849-911 H) cet. Maktabah al-Kautsar Riyadh 1418 H.

5. Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Ibnu Abi Hatim berkata : “Pernah ayah saya ditanya tentang Imam Ahmad bin Hambal, lalu beliau menjawab : “Dia adalah seorang Imam dan dia adalah Hujjah”. (Tahdzib hal 113 jilid 1 dan albidayah hal 775 jilid 10 karya Ibnu Katsir)

6. Dia dibaiat menjadi khalifah setelah kematian saudaranya yang bernama al-Walid, pada hari sabtu pertengahan bulan Jumadil Akhirah, th 93 H. (albidayah hal 197 jilid 9)

7. Ibnu Sa’ad berkata : “Ia periwayat hadits terpercaya, mempunyai keutamaan dan luas ilmunya”. Yahya bin Hamzah menceritakan dari Musa bin Yasar : “Suatu ketika Roja bin Haiwa, Adi bin Adi, dan Makhul berada di Masjid, lalu seorang bertanya kepada Makhul tentang suatu permasalahan, kemudian Makhul menjawab : “Bertanyalah kepada syaikhuna, Sayidina (tokoh dan pemuka kita) Roja bin Haiwa”. (Tahdzib hal 161 jilid 2)

8. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah baiat seperti terhadap wasiat tertulis seseorang seperti ini, dan berjanji terhadap wasiat itu tanpa membaca isinya kepada para saksi. Lalu para saksi bersaksi
terhadap apa yang tertulis dan berjanji untuk melaksanakannya. Sejumlah ulama membolehkannya, al-Qadhi Abu al-Faraj al-Mu’afa bin Zakaria al-Jariri berkata : “Mayoritas ulama negeri Hijaz membolehkannya, dan pendapat seperti ini juga diriwayatkan Salim bin Abdullah. Dan ini adalah pendapat yang dipegang Madzhab Maliki dan Muhammad bin Maslamah, al-Mahzumi, Makhul, Namir bin Aus dan Zur’ah bin Ibrahim, al-Auzai, Said bin Abdul Aziz dan para ahli fikih yang menyetujui dari kalangan penduduk Syam.

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 24, hal.47-51)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: