Mengapa Saya Keluar Dari Thariqot Tijaniyah…

Mengapa saya keluar dari Thoriqot Tijaniyah…

Oleh: Syaikh Muhammad Taquddin al-Hilali

Segala puji milik Allah yang mengutus Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- sebagai penutup para nabi dan imam para rasul, sebagai rahmat bagi semesta alam, pemberita kabar gembira, yaitu kemenangan yang nyata bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuknya, dan juga sebagai pemberi peringatan akan adanya siksa yang menghinakan bagi mereka yang kafir dan menyelisihi sunnahnya, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau.

Asy-Syaikh Taqiyuddin bin Abdul Qadir al-Husaini al-Hilali berkata :
Aku tinggal di negeri Sajlamaanah, ketika berusia 12 tahun aku telah hafal al-Qur’an, aku lihat penduduk negeriku penganut fanatik berbagai thariqat Sufiyah, hampir-hampir anda tidak menjumpai seorangpun diantara mereka, baik itu seorang yang berilmu maupun orang bodoh melainkan pasti dia pengikut salah satu thariqat Sufiyah, dan mempunyai hubungan sangat erat dengan seorang syaikh seperti jalinan seseorang yang amat sangat mencintai kekasihnya, ia beristighasah pada syaikhnya di saat susah, meminta pertolongan padanya tatkala mendapatkan musibah-musibah, serta senantiasa bersyukur dan memujinya, dan jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kepadanya, jika tertimpa musibah ia menuduh dirinya masih kurang taat dan kurang cinta terhadap syaikhnya serta kurang berpegang teguh pada thariqatnya.

Tidak terlintas dalam benaknya bahwa syaikhnya itu lemah tidak mampu melakukan sesuatu baik itu di langit maupun di bumi, (bahkan ia meyakini) syaikhnya mampu melakukan segala sesuatu. Dan aku mendengar masyarakat berkata : “Barangsiapa tidak mempunyai syaikh maka setan itu adalah syaikhnya.”

Aku melihat ada dua kelompok tasawuf yang tersebar di negeri kami :

Pertama : Kelompok tasawuf yang diikuti oleh para ulama dan para tokoh masyarakat.

Kedua : Kelompok tasawuf yang diikuti masyarakat awam.

Adapun aku lebih condong pada kelompok pertama, dan aku dengar ayahku dimana beliau termasuk ulama di negeri kami sering berujar :
Kalau bukan lantaran thariqat Tijaniyah melarang pengikutnya berziarah kubur ke makam para wali, dan meminta bantuan dan hajat kepada mereka, terkecuali kuburannya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, dan juga terkecuali kuburan syaikh at-Tijani, dan kuburan orang-orang yang mengikuti thariqatnya dari kalangan para wali, kalau bukan karena hal ini tentu saya akan mengikuti thariqat Tijaniyah, karena saya tidak dapat meninggalkan ziarah kubur kakek kami (yang bukan penganut thariqat at-Tijaniyyah) yang bernama Abdul Qadir bin Hilal, dan kakek kami ini mashur sebagai orang yang baik, dan kuburnya dikunjungi manusia, dan dia dianggap termasuk dari kalangan para wali di daerah timur laut negeri Maroko. Baca lebih lanjut

Iklan

Kaidah Dalam Berjihad

Kaidah Dalam Berjihad[1]

Ini adalah pembahasan yang amat penting dalam masalah jihad, yaitu memahami bahwa jihad yang disyariatkan dalam Islam adalah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasul -shollallahu alaihi wa sallam- serta atsar para salafush sholeh. Tidak akan sempurna jihad dijalan Allah dan tidak akan termasuk amal sholeh tanpa memperhatikan syarat-syarat tersebut.

Diantara kaidah-kaidah serta syarat-syarat jihad adalah sebagai berikut :

1- Jihad harus dilandasi oleh 2 hal yang merupakan syarat diterimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasul -shollallahu alaihi wa sallam-). Allah ta’ala tidak akan menerima jihadnya seseorang hingga dia mengikhlaskan niatnya karena Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Jika dia hanya mengharapkan dengan jihadnya tersebut keuntungan pribadi atau jabatan atau yang lainnya dari perkara-perkara dunia maka jihadnya ini tidak diterima oleh Allah ta’ala. Demikian pula, Allah tidak akan menerima jihad seseorang apabila dia tidak mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dalam berjihad. Seseorang yang ingin berjihad haruslah terlebih dahulu memahami bagaimana dahulu Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- berjihad kemudian dia mencontohnya.

2- Jihad tersebut harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad yaitu untuk meninggikan kalimat Allah dan agar agama ini hanyalah milik Allah, sebagaimana Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya : Wahai Rasulullah ! ada seseorang yang berperang karena keberaniannya, ada lagi karena fanatik (golongan), ada juga karena riya’, mana diantara mereka yang termasuk berjihad di jalan Allah ? maka beliau menjawab : “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah tinggi maka dia di jalan Allah” (HR.Bukhari 7458 dan Muslim 1904). Baca lebih lanjut