Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Siapa saja yang Allah telah berikan hidayah kepadanya maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang telah disesatkan, maka tidak seorangpun yang mampu menunjukinya. Kami bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dan kami bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan rasul Allah. Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam serta keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, yaitu Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semua.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya untuk berpegang teguh dengan agama dan tali Allah, serta bersatu di atasnya, sebagaimana firman-Nya :

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah dan janganlah bercerai berai”(QS. Ali imron : 103).

Maka hendaklah kita amati apa yang terkandung di dalam ayat ini, bahwasannya Allah -subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan tali agama-Nya dan melarang perpecahan. Semua ini mengisyaratkan bahwa berpegang teguh dengan agama Allah tidak mendatangkan perpecahan, dan perpecahan sendiri bukanlah bagian dari berpegang teguh dengan agama Allah. Sekiranya berpegang teguh dengan agama Allah menyebabkan perpecahan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk berpegang teguh dengan agama-Nya dan melarang perpecahan, dikarenakan pada hal seperti ini terdapat kontradiksi yang jelas antara yang satu dengan yang lain, maka sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan agama Allah bukan penyebab perpecahan jama’ah kaum muslimin. Bahkan bersatu di atas agama Allah merupakan bagian dari berpegang teguh dengan agama-Nya.

Kebanyakan orang salah kaprah memahami arti al-I’tisham (berpegang teguh), dan dari kesalahpahaman ini bisa jadi sebagian orang beranggapan bahwa dirinya telah berpegang teguh dengan agama Allah tatkala dia bersikukuh terhadap apa-apa yang dia yakini, sehingga dia berteman, memusuhi serta memecah belah umat dengan klaim dan dakwaan bahwa dirinya berpegang teguh terhadap agama Allah. Maka dari itu, sangatlah perlu untuk memahami apa arti berpegang teguh itu dan apa pula makna bersatu. Baca lebih lanjut

Figur Ulama Ahlus Sunnah

Figur Ulama Ahlus Sunnah
Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-

Musibah menimpa umat Islam, dimana sejumlah ulama terkemuka meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan, seperti Syaikh bin baz, Syaikh al-Albani dan Syaikh Utsaimin. Mereka bertiga adalah lambang dakwah salafiyyah pada zaman ini.

Dakwah salafiyah pun menangis atas kepergian mereka ke alam baka, sedangkan kaum muslimin mengantarkan jenazah mereka ke liang lahat dan berdoa dengan berendah diri pada-Nya, agar Dia memberikan ganti dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka berikan pada umat ini.

Berikut ini, akan kami sajikan kisah kehidupan salah seorang dari mereka, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-, seorang ulama yang hidup dalam lingkungan beragama dan berdakwah mengajak ke jalan-Nya. Beliau adalah sosok ulama yang mengamalkan ilmu dan mendidik umat.

Hampir 74 tahun, beliau habiskan usia beliau untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkan kebaikan. Karena itulah timbul rasa cinta pada beliau, hingga berbondong-bondong kaum muslimin keluar mengantarkan jenazah beliau di hari wafatnya. Inilah dia kemuliaan hakiki yang beliau peroleh tanpa pernah mengeluarkan uang untuk mendapatkannya, namun karena ilmu, amal dan akhlak beliau. Baca lebih lanjut