Syukur Vs Takabbur

Syukur Vs Takabbur

Oleh : Syaikh Muhammad Musa Alu- Nasr

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32)

Sebagian besar manusia yang tidak mengerti tentang tafsir al-Qur’an menduga bahwa ayat ini melarang kaum muslimin dari menyebut-nyebut segala nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya. Mereka berpaling dari ucapan jumhur ahli tafsir di dalam menjelaskan makna ayat tersebut, dengan cara melupakan ayat Allah yang lain yang berbunyi.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Dhuha : 11)

Atas dasar hasad mereka menduga – bahwasanya maksud ayat ini adalah larangan dari membicarakan nikmat Allah, dan siapa saja yang menyebutkan nikmat Allah atasnya, maka secara tidak sadar dia telah memastikan dirinya sebagai calon penghuni surga, bertakwa dan penuh dengan kebaikan.

Padahal yang benar adalah pendapat para imam ahli tafsir berikut ini :

Al-Imam ath-Thobari berkata (Jami’ul bayan jilid 7 hal 153) : Firman Allah -ta’ala-, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” (QS. An-Najm : 32)

Dalam ayat ini Allah menyatakan : Janganlah kalian memproklamirkan diri kalian sebagai jiwa-jiwa yang suci, bebas dari dosa dan maksiat, karena kelanjutan firman-Nya menyatakan :

“Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32)
Ayat ini mengandung arti : Dan Tuhanmu wahai Muhammad, Dialah yang paling tahu tentang hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya sehingga menjauhi berbagai perbuatan maksiat kepada-Nya.” Baca lebih lanjut

Iklan

Jihad Melawan Ahlu Bid’ah

َ

Jihad Melawan Ahlu Bid’ah

(Nuniyah hal 214  oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

لأُجَـاهِدَنَّ عَـدَاكَ مَـا أَبْقَيْتَـنِي وَلأَجْـعَلَـنَّ قِتَـالَهُمْ دَيْدَانِـي

وَلأُفْضِحَنَّهُـمُ عَلَـى رُوْسِ الْمَـلاَ وَلأُفْرِيَـنَّ أَدِيْمَهُـمْ بِلِسَــانِي

وَلأَكْشِـفَنَّ سَـرَائِراً خَفِيَتْ عَلَـى ضُعَفَـاءِ خَلْقِكَ مِنْهُـمْ بِبَيـَانِ

وَلأَتْبَعَنَّهُـم إِلَـى حَيْـثُ اِنْتَهَـوا حَتَّـى يُقَـالَ أَبَـعْـدَ عُبَّـادَانِ

وَلأَرْجُمَنَّهُــمْ بِـأَعْلاَمِ الْهُــدَى رَجْـمَ المُرِيْـدِ بِثَاقِبِ الشُـهْبَانِ

وَلأُقْعِـدَنَّ لَهُـمْ مَرَاصِـدَ كَيْدِهِـمْ وَلأَحْصُرَ نَّهُـمْ بِكُـلِّ مَكَـانِ

وَلأَجْعَلَـنَّ لُحُوْمَهُـمْ وَدِمَـائَهُمْ فِي يَـوْمِ نَصْرِكَ أَعْظَـمَ القُرْبـَانِ

وَلأَحْمِلَـنَّ عَلَيْهِـمْ بِعَسَـاكِرَ لَيْسَـتْ تَفِـرُّ إِذَا اْلتَقَى الزَحْفَـانِ

بِعَسَـاكِرِ الوَحْيَيْنِ وَالفِطَرَاتِ وَالـ مَعْقُـولِ وَالْمَنْقُـوْلِ بِالإِحْسَـانِ

حَتَّـى يَبِيْنَ لِمَنْ لَهُ عَقْـلٌ مَنِ الـ أَوْلَى بِحُكْـمِ العَقْـلِ وَالبُرْهَـانِ

وَلأَ نْصَحَـنَّ اللهَ ثُـمَّ رَسُـوْلَـهُ وَكِتَـابَـهُ وَشَـرَائِـعَ الإِيْمَـانِ

إِنْ شَـاءَ رَبِّـي ذَا يَكُـوْنُ بِحَوْلِـهِ أَوْلَـمْ يَشَـأْ فَـالأَمْرُ لِلْـرَحْمَـنِ

Baca lebih lanjut