Pena Bermata Dua

Pena Bermata Dua
Nasehat Bagi Para Penulis
Oleh: Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr


Semoga Allah memuliakan pena, sebagai makhluk pertama ciptaan-Nya(ulama berselisih tentang makhluk pertama yang Allah ciptakan menjadi dua: kelompok pertama menyatakan, makhluk pertama adalah pena. Kelompok kedua berpendapat makhluk pertama adalah Arsy), sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-. Dan Allah telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Allah berfirman:
Nūn, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis. (QS. al-Qolam: 1)

Allah bersumpah dengan pena bahwa dakwah agama Islam bersandar kepada seseorang Nabi yang ma’shūm yang sempurna akal dan kekuatannya. Oleh sebab itu, Allah meneruskan ayat di atas dengan firman-Nya:

Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. (QS. al-Qolam: 2)

Sebab, gila merupakan penyakit yang dapat menghalangi diri dari menjalankan kewajiban agama dan menyampaikan dakwah, juga merupakan salah satu faktor penyebab melampaui batas. Baca lebih lanjut

Makan Saat Lapar Berhenti Sebelum Kenyang

Makan Saat Lapar Berhenti Sebelum Kenyang

Pertanyaan:

Ustadz, hadits yang berbunyi, “Makanlah pada saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang” apakah shahih? [+622817924XXX]

Jawaban:

Apabila yang antum maksud adalah hadits dengan lafazh berikut ini:

نَحْنُ قَوْمٌ لاَ نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لاَ نَشْبَعُ

Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan sampai kami lapar, dan apabila kami makan maka kami berhenti sebelum kenyang.  Baca lebih lanjut

Shalat Sunnah Sepulang Safar

Shalat Sunnah Sepulang Safar
Abu Musa al-Atsari

Safar adalah aktivitas yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Dari sisi lelahnya, Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَابِ

Safar merupakan secuil dari adzab. HR. al-Bukhari, no. 1084, 3001, 5429, dan Muslim, no. 1927.

Sedang dalam sisi senangnya, orang yang safar akan mendapat ilmu baru, teman baru, pengalaman baru, dan hal-hal lain yang baru.

KEBIASAAN ULAMA

Safar dari satu negeri ke negeri lain atau dari kota ke kota lain dalam rangka menuntut ilmu merupakan kebiasaan para ulama. Dan hingga saat ini –alhamdulillâh- banyak para penuntut ilmu yang rela berpisah dengan keluarga dan saudara untuk merantau jauh demi mencari ilmu agama, semoga Allah merahmati mereka. Sehingga para ulama banyak yang memiliki syair yang membahas seputar safar, dan di antara mereka adalah Imam asy-Syafi’i -rahimahullah-.

Kemudian, apabila kita pelajari dengan baik tuntunan dan petunjuk Nabi -shollalahu alaihi wa sallam- dalam hal safar ternyata ada banyak sekali. Sebagiannya masih diterapkan oleh kaum muslimin. Namun sebagian yang lain mulai terlupakan dan ditinggalkan. Dan di antara sunnah Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- yang telah banyak dilupakan adalah shalat dua rakaat di masjid sepulang dari safar. Yang mana seseorang yang baru pulang dari safar disunnahkan untuk pergi ke masjid terdekat dari rumahnya kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, baru setelah itu ia pulang ke rumah. Baca lebih lanjut

Sepucuk Surat di Hari Valentine

Sepucuk Surat di Hari Valentine

Sebelum 14 Februari menyapa, para muda-mudi sibuk mempersiapkan hadiah, kartu ucapan, bunga, pakaian dll. Bahkan tak jarang dari mereka sibuk mencari pasangan agar hari istimewa –versi mereka- itu tak terlewatkan hampa begitu saja. Mengapa mereka begitu perhatian dengan hari yang satu ini? Ternyata, hari itu merupakan hari kasih sayang dan saling cinta, “sekarang valentine’s day” atau “hari valentine”, seru mereka.

Pada momen ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah- memiliki sepucuk surat bagi muda-mudi yang masih suka merayakan hari istimewa –versi mereka- ini. Mari kita baca bersama. Baca lebih lanjut

Syaikh Bersorban Naik Sepeda

Syaikh al-Albani -rahimahullah- bercerita:

“Setelah aku membeli sebidang tanah di luar kota, karena harga tanah di sana murah, aku langsung membangun sebuah rumah lengkap dengan toko. Setelah semuanya beres, aku baru sadar bahwa jarak antara rumahku dengan perpustakaan azh-Zhahiriyyah yang sering aku kunjungi lumayan jauh. Dahulu aku bekerja satu atau dua jam di tokoku sebelum perpustakaan itu dibuka. Baca lebih lanjut

Tamu Istimewa

Tamu Istimewa

Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah pernah bercerita: “Suatu saat Syaikh al-Albani -arahimahullah- pernah berkunjung ke rumahku, lalu ia duduk di kursi ruangan ini, sementara itu aku tidak bisa menyuguhkan sesuatu kepadanya dalam waktu yang sesingkat ini.

Aku katakan kepadanya: “Jangan marah kepadaku, ya Syaikh, aku tidak memiliki sesuatu yang siap dihidangkan untukmu.”

Tapi Syaikh diam saja dan tidak berucap apapun. Lalu aku berkata: “Apakah pertanyaanku ini bid’ah, ya Syaikh.”

Syaikh al-Albani -rahimahullah- menjawab: “Tujuanku (ke sini untuk bertemu) orang yang memberi makan (bukan mengharap makanan).”

Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 47, hal.38

Edisi 47

01-cover-1-hlm-1